Jumat, 21 September 2012

MELALUI PENGGUNAAN MEDIA BUKU CERITA BERGAMBAR DAPAT MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas sering dijumpai masalah, antara lain cara mengajar guru yang menganggap siswa hanya sebuah benda yang hanya dapat menerima pelajaran dari gurunya saja. Selain sangat banyaknya bahan pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa, guru juga kurang terbiasa menggunakan media-media pembelajaran yang bervariasi.
Padahal seorang guru harus kreatif dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, baik itu dari segi materi, metode maupun media yang digunakan harus menarik agar dapat menarik minat siswa untuk giat dalam belajar di sekolah, khususnya di dalam kelas.
Di samping itu, kesulitan anak dalam berbahasa juga menjadi suatu masalah yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan, karena seperti yang telah kita ketahui bahwa bahasa adalah dasar komunikasi utama pada manusia. Jika anak mengalami kesulitan dalam berbahasa, maka akan mengalami kesulitan dalam memahami suatu konsep atau dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
Baca Selengkapnya
Bahasa juga merupakan alat utama dalam belajar membaca. Oleh karena itu, kesulitan dalam bahasa akan menyebabkan kesulitan dalam memproses belajar mengajar terutama dalam belajar membaca, karena pembelajaran membaca merupakan bagian dari pembelajaran bahasa.
Dalam proses belajar-mengajar di kelas guru memegang peranan yang sangat penting. Para siswa tetap memerlukan bimbingan dan arahan untuk dapat belajar dengan baik. Selain itu, media pembelajaran yang bervariasi dapat membantu siswa mengembalikan semangat belajarnya. Di samping itu, media pembelajaran yang bervariasi membuat para siswa tertarik dan tertantang untuk mengikuti proses pembelajaran tanpa membuat siswa tersebut jenuh dan bosan dalam mengikuti proses balajar-mengajar tersebut. Oleh karena itu, variasi media pembelajaran di sekolah dasar sangat diperlukan, apalagi keadaan siswa sekolah dasar yang pola pikirnya masih bersifat konkret dan masih senang bermain, sangat cocok diterapkan media pembelajaran yang bervariasi. Para guru hendaknya membuat pembelajaran jadi bermakna dan buatlah semua siswa aktif dalam mengikuti proses belajar-mengajar, jangan gurunya saja yang aktif dalam proses pembelajaran.
Media buku cerita bergambar sangat cocok untuk diterapkan pada siswa kelas 1 sekolah dasar dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan, karena pelajaran membaca permulaan di kelas 1 sekolah dasar merupakan awal siswa mengenal simbol-simbol dan mengalihkodekannya menjadi bermakna. Ketika anak tidak dapat melakukannya, maka proses pembelajaran akan terhambat. Membaca merupakan syarat utama dalam pembelajaran yang harus dipenuhi.
Menurut teori Piaget (dalam Syamsudin, 2001:102), anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Hal ini menunjukkan bahwa anak sangat menyukai benda-benda yang nyata. Di samping itu, anak juga memiliki daya fantasi yang sangat tinggi. Berdasarkan asumsi tersebut, agar lebih menarik dan menumbuhkan motivasi anak terhadap sesuatu hal, diperlukan media yang dapat menyalurkan imajinasi yang kreatif pada anak.
Salah satu media yang dapat dimanfaatkan diantaranya adalah media buku cerita bergambar. Dengan buku cerita bergambar kita dapat membantu mempermudah anak untuk menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam bentuk bahasa karena gambar akan memberikan inspirasi dan motivasi yang sangat tinggi kepada siswa untuk melakukan proses pembelajaran terutama dalam megajarkan membaca permulaan. Jika kesulitan belajar berbahasa khususnya belajar membaca permulaan dibiarkan begitu saja tanpa adanya tindak lanjut maka akan banyak siswa yang berkesulitan membaca.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka  dapat dirumuskan masalahnya adalah
1.      Apakah pengertian media buku cerita bergambar?
2.      Apakah pengertian pembelajaran membaca permulaan?
3.      Bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui media Buku cerita bergambar?.

C.    Tujuan Penulisan
Sejalan dengan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui
1.      Pengertian media buku cerita bergambar.
2.      Pengertian pembelajaran membaca permulaan.
3.      Peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui media Buku cerita bergambar.

D.    Manfaat Penulisan
Hasil penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
a.       Memberikan masukan tentang upaya peningkatan kualitas belajar dan hasil belajar siswa terutama dalam membaca permulaan serta menambah wawasan dan pengetahuan kepada guru dalam mengatasi permasalahan yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar.
b.      Diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang baru kepada siswa dan memberikan pemahaman bahwa belajar itu tidak membosankan tetapi menyenangkan sehingga tumbuh minat untuk belajar dengan sungguh-sungguh dalam benak siswa.
c.       Diharapkan dapat memberikan masukan yang positif bagi Sekolah sehingga Sekolah dapat memperbaiki kualitas setiap siswa lulusan sekolah tersebut.
d.      Diharapkan dapat memberikan masukan dalam upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dalam pelaksanaan pendidikan di Sekolah.
e.       Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang penggunaan media buku cerita bergambar dalam peningkatan kemampuan membaca permulaan siswa di sekolah dasar, dengan demikian kita sebagai pendidik dapat menggunakan media tersebut pada saat kita mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Media Buku Cerita Bergambar
1.      Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin yaitu jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan (Sadiman, 2002: 6). Secara umum media pembelajaran dalam pendidikan disebut media, yaitu berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk berpikir, menurut Gagne (dalam Sadiman, 2002:6). Sedangkan menurut Brigs (dalam Sadiman, 2002: 6) media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.
Jadi, media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim dan penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman, 2002:6). Adapun menurut Heinich, dkk (1982) menyatakan bahwa media berasal dari bahasa Latin , merupakan bentuk jamak dari kata “ Medium” yang secara harfiah berarti “ Perantara ” ( between), yaitu perantara sumber pesan (source) dengan penerima pesan (receiver). Dalam proses pembelajaran, media ini dapat diartikan sebagai berikut:
1.      Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm, 1977).
2.      Sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya (Briggs, 1977).
3.      Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969).
Menurut Latuheru (dalam Hamdani, 2005) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diberikan, maka media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru (atau pembuat media) dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna.
Media yang digunakan dalam proses pembelajaran harus dapat memotivasi siswa untuk giat dalam belajar, Sesuatu dapat dikatakan sebagai media apabila media tersebut digunakan dalam menyampaikan atau menyalurkan pesan dengan tujuan-tujuan pendidikan dan pembelajaran.
2.      Pengertian Buku Cerita Bergambar
Gambar adalah segala sesuatu yang diwujudkan secara visual kedalam bentuk dua dimensi sebagai hasil perasaan dan pikiran. Gambar dapat dipergunakan sebagai media dalam penyelenggaraan proses pendidikan sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar-mengajar. Tarigan (1995:209) mengemukakan bahwa pemilihan gambar haruslah tepat, menarik dan dapat merangsang siswa untuk belajar. Media gambar yang menarik, akan menarik perhatian siswa dan menjadikan siswa memberikan respon awal terhadap proses pembelajaran. Media gambar yang digunakan dalam pembelajaran akan diingat lebih lama oleh siswa karena bentuknya yang konkrit dan tidak bersifat abstrak. Gambar adalah suatu bentuk ekspresi komunikasi universal yang dikenal khalayak luas.
Buku cerita bergambar adalah buku bergambar tetapi dalam bentuk cerita, bukan buku informasi. Dengan demikian buku cerita bergambar sesuai dengan ciri-ciri buku cerita, mempunyai unsur-unsur cerita (tokoh, plot, alur). Buku cerita bergambar ini dapat dibedakan menjadi dua jenis, (1) buku cerita bergambar dengan kata-kata, (2) buku cerita bergambar tanpa kata-kata. Kedua buku tersebut biasanya untuk prasekolah atau murid sekolah dasar kelas awal.
Buku cerita bergambar merupakan sesuatu yang tidak asing dalam kehidupan anak-anak. Disamping itu, buku adalah sebuah media yang baik bagi anak-anak untuk belajar membaca. Buku cerita bergambar merupakan kesatuan cerita disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai penghias dan pendukung cerita yang dapat membantu proses pemahaman terhadap isi buku tersebut. Melalui buku cerita bergambar, diharapkan pembaca dapat dengan mudah menerima informasi dan deskripsi cerita yang hendak disampaikan.
Untuk anak usia dini, alangkah baiknya jika kita mengenalkan buku cerita bergambar yang sesuai dengan usia mereka, untuk membantu perkembangannya. Karena pada saat usia dini, perkembangan otak anak berkembang secara pesat. Sehingga kita harus memotivasi anak untuk selalu belajar dan media pembelajaran membaca permulaan yang efektif adalah melalui buku cerita bergambar.
Dari beberapa paparan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa media buku cerita bergambar sangat cocok jika diterapkan dalam proses pembelajaran membaca permulaan di kelas 1, karena media tersebut dapat merangsang siswa dalam pembelajaran membaca khususnya membaca permulaan, media buku cerita bergambar tersebut diwujudkan dalam bentuk visual ke dalam bentuk dua dimensi sebagai hasil pikiran dan perasaan.
3.      Manfaat dan Fungsi Media Buku Cerita Bergambar
Mitchell (dalam Nurgiantoro, 2005:159) mengungkapkan fungsi dan pentingnya buku cerita bergambar sebagai berikut:
1.      Membantu perkembangan emosi anak.
2.      Membantu anak belajar tentang dunia dan keberadaannya.
3.      Belajar tentang orang lain, hubungan yang terjadi dan pengembangan perasaan.
4.      Memperoleh kesenangan.
5.      Untuk mengapresiasi keindahan, dan
6.      Untuk menstimulasi imajinasi.

B.     Pembelajaran Membaca Permulaan
1.      Pengertian Membaca Permulaan
Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif karena dengan membaca, seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu pengetahuan serta pengalaman-pengalaman yang bersifat baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu mempertinggi pemikiran dan wawasannya dan memperluas pandangannya, karena membaca adalah jendela dunia. Membaca juga  merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kegiatan membaca setiap saat dilakukan oleh individu. Di era global banyak informasi-informasi disampaikan melalui media-media elektronik maupun media cetak, dengan demikian kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar yang penting yang harus dimiliki oleh individu, oleh karena itu pembelajaran membaca di sekolah mempunyai peranan yang sangat penting.
Usia siswa kelas 1 Sekolah Dasar berkisar antara 6-7 tahun. Dimana pada usia ini, anak mulai diajarkan membaca secara formal. Pada usia 6-7 tahun inilah siswa mulai dapat belajar membaca dengan baik, karena siswa telah memiliki kematangan dalam berpikir dan memiliki kesiapan membaca yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang berusia 4-5 tahun.
Pembelajaran membaca di kelas rendah merupakan pembelajaran membaca tahap awal, kemampuan membaca yang diperoleh dikelas rendah terutama di kelas 1 sekolah dasar akan menjadi dasar pembelajaran membaca di kelas-kelas berikutnya dan membaca di jenjang tersebut akrab dikenal sebagai membaca permulaan.
Membaca permulaan adalah salah satu aspek keterampilan bahasa yang diperuntukan bagi siswa kelas awal. Akhadiah (dalam Resmini, 2006:108) mengemukakan bahwa permulaan membaca hanya berlangsung dua tahun, yaitu kelas 1 dan kelas 2 sekolah dasar. Bagi siswa kelas 1 dan kelas 2 tersebut, membaca merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis.
Melalui tulisan itulah siswa dituntut untuk dapat memahami dan menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut. Namun, pengucapan kata secara tepat hanya akan tercapai jika pengenalan bunyi itu dapat membangkitkan makna sebagaimana halnya dalam penggunaan bahasa lisan. Selain itu, latar belakang pengalaman siswa juga akan mempengaruhi. Siswa yang memiliki banyak pengalaman akan lebih mudah dalam mengembangkan pemahaman kosakata dan konsep yang didapatkannya dalam teks bacaan. Burns, Roe dan Rose (dalam Resmini, 2006:108).
Pada tahap membaca permulaan siswa mulai diperkenalkan dengan berbagai simbol huruf, mulai dari simbol huruf /a/ sampai dengan /z/. Mercer (dalam Abdurrahman, 1999:204) mengidentifikasikan bahwa ada 4 kelompok karakteristik siswa yang kurang mampu membaca permulaan, yaitu dilihat dari: (1). Kebiasaan membaca. (2). Kekeliruan mengenal kata. (3). Kekeliruan pemahaman, dan (4). Gejala-gejala lainnya yang beraneka ragam. Siswa yang sulit membaca, sering memperlihatkan kebiasaan dan tingkah laku yang tidak wajar. Gejala-gejala gerakannya penuh ketegangan seperti: (1). Mengernyitkan kening. (2). Gelisah. (3). Irama suara meninggi. (4). Menggigit bibir. (5). Adanya perasaan tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru.
Gejala-gejala tersebut muncul akibat dari kesulitan siswa dalam membaca. Indikator kesulitan siswa dalam membaca permulaan, antara lain: (1). Siswa tidak mengenali huruf. (2). Siswa sulit membedakan huruf. (3). Siswa kurang yakin dengan huruf yang dibacanya itu benar. (4). Siswa tidak mengetahui makna kata atau kalimat yang dibacanya.
Pemahaman dalam membaca permulaan, disisi lain hanya menuntut siswa untuk mampu melafalkan lambang-lambang bunyi dan memahami makna bacaan secara sederhana. Menurut Ellis (dalam Resmini, 2006:109) pusat perhatian membaca permulaan adalah membantu siswa untuk belajar membaca. Maka pembelajaran membaca permulaan di kelas 1, siswa lebih banyak dituntut untuk melafalkan lambang bunyi bahasa tulis daripada untuk memahami dan menafsirkan isi bacaan.
Pembelajaran membaca permulaan di sekolah dasar bertujuan agar siswa mengenal dan menguasai sistem tulisan sehingga mereka dapat membaca dengan menggunakan sistem tersebut. Siswa sekolah dasar harus mampu membaca dengan tepat. Ketepatan membaca permulaan sangat dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I sekolah dasar. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Banyak pakar pendidikan mencari solusi bagaimana cara memperbaiki pembelajaran kemampuan membaca permulaan. Belajar membaca permulaan sebaiknya dilakukan melalui gambar-gambar dengan kata-kata sederhana.
2.      Tujuan Membaca Permulaan
Pembelajaran membaca permulaan di sekolah dasar bertujuan agar siswa mengenal dan menguasai sistem tulisan sehingga mereka dapat membaca dengan menggunakan sistem tersebut. Adapun tujuan lain dari membaca permulaan adalah untuk membangkitkan, membina dan memupuk minat anak untuk membaca. Siswa sekolah dasar harus mampu membaca dengan tepat. Ketepatan membaca permulaan sangat dipengaruhi oleh keaktifan dan kreativitas guru yang mengajar di kelas I SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Banyak pakar pendidikan mencari solusi bagaimana cara memperbaiki pembelajaran kemampuan membaca permulaan.

C.    Pembelajaran Membaca Permulaan melalui Media Buku Cerita Bergambar

Pemanfaatan Buku Cerita Bergambar dalam pembelajaran membaca permulaan terbukti efektif. Efektivitas tersebut terlihat pada hal berikut. Pertama, pemanfaatan Buku Cerita Bergambar dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan gembira, bebas, aktif, dan produktif, sehingga kendala psikologis yang sering menghambat siswa seperti rasa enggan, takut, malu dapat teratasi. Hal ini terlihat ketika siswa melaksanakan kegiatan membaca yang semula malu dan takut untuk membaca menjadi lebih bergairah, gembira, dan semangat dalam melaksanakan kegiatan membaca. Kedua, hasil membaca permulaan siswa semakin meningkat, dari kurang mampu mengenali gambar menjadi tertarik untuk mengenalinya, dari kurang mampu membaca huruf, suku kata, kata, dan kalimat sederhana menjadi tertarik menganalisisnya sampai bisa menguasai kalimat sederhana dengan baik. Dari kurang berminat membaca, menjadi tertarik dan penasaran ingin membaca dan memiliki Buku Cerita Bergambar. Frekuensi baca menjadi meningkat dibanding ketika masih menggunakan buku paket. Ketiga, siswa terlatih untuk berani mengemukakan kesan pembelajaran dan berani membaca tanpa bimbingan guru.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Buku cerita bergambar adalah buku bergambar tetapi dalam bentuk cerita, bukan buku informasi. Buku cerita bergambar sesuai dengan ciri-ciri buku cerita, mempunyai unsur-unsur cerita (tokoh, plot, alur). Buku cerita bergambar merupakan sesuatu yang tidak asing dalam kehidupan anak-anak. Buku cerita bergambar merupakan kesatuan cerita disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai penghias dan pendukung cerita yang dapat membantu proses pemahaman terhadap isi buku tersebut.
2.      Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif karena dengan membaca, seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu pengetahuan serta pengalaman-pengalaman yang bersifat baru. Kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar yang penting yang harus dimiliki oleh individu, oleh karena itu pembelajaran membaca di sekolah mempunyai peranan yang sangat penting.
3.      Dalam menggunakan media dalam pembelajaran di kelas 1 SD lebih baik menggunakan media buku cerita bergambar, kerena dapat dengan mudah menerima informasi dan deskripsi cerita yang hendak disampaikan, sehingga kemampuan membaca siswa akan meningkat.

B.     Saran
1.      Para pendidik, buatlah suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, terutama bagi siswa usia Sekolah Dasar, khususnya kelas 1. Karena suasana pembelajaran yang menyenangkan dapatmenumbuhkan semangat belajar pada siswa terutama siswa kelas 1. Penggunaan metode, strategi dan media pembelajaran perlu diperhatikan, karena hal tersebut dapat menunjang terhadap keberhasilan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, begitu pun pada saat pembelajaran membaca permulaan, carilah media yang cocok bagi siswa sesuai dengan karakteristik mereka, dan media buku cerita bergambar sangat cocok diterapkan kepada siswa kelas 1 dalam rangka meningkatkan kemampuan membaca permulaan mereka.
2.      Bagi orang tua siswa terutama orang tua siswa kelas 1 yang hendak mengajar anaknya membaca, gunakanlah media yang cocok, dan media buku cerita bergambar sangat cocok untuk pembelajaran membaca permulaan.


DAFTAR PUSTAKA

Budiasih., dan Zuchdi, D. (1997). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Kusumah, Wijaya. (2010). Manfaat Membaca. [Online]. Tersedia dalam: http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/19/manfaat-membaca/ [19 Januari, 2010]
Liando, Mayske. (2008). Pemanfaatan Buku Cerita Bergambar Untuk Meningkatkan Minat dan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas 1 SD Negeri Sumbersari II Malang. [Online]. Tersedia dalam: http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/896 [2008]
Pratama, Rizal. (2009). Jenis-jenis Membaca dan Kecepatan Membaca . [Online]. Tersedia dalam: http://Riszal92.blogspot.com/2009/03/jenis-jenis-membaca-dan-kecepatan.html [5 Maret, 2009]
Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa. (1999). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-2. Jakarta: Balai Pustaka
Resmini, N., Djuanda, D. dan Indihadi, D. (2006). Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indones ia. Bandung: UPI PRESS
Tampubolon. (1993). Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca Pada Anak. Bandung: Angkasa
Winataputra, U.S., dkk. (2001). Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: Universitas Terbuka



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar